Posted by: yettiaka | July 2, 2018

Ia Tidak Ingin Mengatakannya

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 10 Juni 2018)

Nicelli memandangi jari manis tangan kanannya. Jari cokelat muda dan ramping. Sebentuk cincin melingkar di sana. Hon memasangkannya lima tahun lalu. Nicelli tak pernah melepasnya, meski empat tahun kemudian mereka resmi berpisah. Itu sama sekali tidak masalah—tentang perselingkuhan Hon yang membuat pernikahan mereka berantakan itu. Nicelli tidak membenci Hon. Ia lebih sering membenci dirinya ketimbang Hon.

“Hon,” desisnya gelisah. Nicelli berputar-putar di ruangan. Ia meremas-remas jemarinya sambil terus berkata, ya, Tuhan dan satu dua kali menyebut nama Hon. Ia makin gelisah. Seperti biasa, ia lagi-lagi sangat menginginkan pisau dan melakukan sesuatu pada dirinya. Namun, sebelum ia bergerak ke dapur dan menemukan pisau dalam lemari penyimpanan, ia lekas meninju kepalanya dengan keras—seperti yang Hon sering lakukan dalam menghadapinya. Ia meninju lagi dengan lebih keras. Meninju lagi. Sampai ia terhuyung-huyung, lantas kepalanya membentur dinding dan  pikirannya terpecah; antara pisau dan gambar-gambar bunga matahari.

Read More…

Advertisements
Posted by: yettiaka | May 15, 2018

Kepala Kucing

(Cerpen Yetti A.KA dan Edi AH Eyubenu, nyonthong com, 27 April 2018)

Kau mengaku memiliki gudang di dadamu tempat menyimpan segala macam benda dan binatang.

Binatang? tanyaku setengah iseng. Kau tersenyum dan… seketika matamu berubah menjadi dua buah garis lurus yang tampak lucu. Kuanggap demikian karena aku pernah punya teman seperti itu. Kami bertemu pada usia lima belas dan terpisah di usia tujuh belas. Selama dua tahun kebersamaan kami itu, hal yang paling kuingat darinya adalah sepasang matanya yang berubah menjadi garis lurus bila ia tersenyum lebar. Aku mengatakan kepada temanku itu kalau ia mirip tokoh kartun penghibur saat tersenyum begitu. Ia suka pendapatku. Itu ia tunjukkan dengan usahanya untuk banyak tersenyum lebar saat bersamaku. Namun, satu hari, setelah setahun temanku itu pamit pergi ke kota lain mengikuti orang tuanya yang senang berpindah-pindah, foto pecahan tubuhnya yang berceceran di jalan, lengkap dengan keterangan jati diri di kartu tanda pengenalnya, tersebar di media sosial. Sampai di sini, aku merasa apa-apa yang tadi kukenang sebagai sesuatu yang lucu tentangnya berubah menjadi gelap. Susah payah aku mengatur napasku yang seketika menjadi berat.

….

Sila baca selengkapnya di link ini: http://nyonthong.com/cerpen-kepala-kucing/

 

Posted by: yettiaka | May 15, 2018

Insang Merah Muda

(Cerpen Yetti A.KA, Litera, 24 April 2018)

Dalam kurungan tikar pandan, Kimori mendengar suara arus sungai dan tawa teman-temannya. “Buka yang lebar,” bisik perempuan tua—tukang sunat yang telah memegang jarum kecil di tangan kanan.

Kimori tersentak, tawa teman-temannya menghilang. Ia ingat mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia yang berubah menjadi seekor ikan di hari sunatannya. “Buka yang lebar,” sekali lagi perempuan tua berbisik. Ragu-ragu Kimori membuka selangkangannya yang ditutup kain mandi dari belacu. Suara teman-temannya kembali riuh—sepertinya ada seorang anak yang menyimburkan air ke tepian sungai dan membasahi orang-orang yang sedang duduk bergerombol. Ia merasa lega mendengar keriuhan itu. Rasa takutnya berkurang. Dalam mimpi itu, selain dirinya, ia melihat begitu banyak ikan berwajah anak perempuan yang pernah dibawa ke sungai untuk disunat dan dimandikan dengan jampi  di ubun-ubun. Sebentar lagi ia mungkin akan benar-benar menjadi ikan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seekor ikan dan berada di dalam sungai.

…..

Baca selanjutnya di  link ini: https://litera.id/2018/04/24/insang-merah-muda/

 

Posted by: yettiaka | April 24, 2018

Anggota Kongsi Kematian

(Cerpen Yetti A.KA, detik.com, 14 April 2018)

Pada waktu itu, ayahku pemilik satu-satunya toserba yang nyaris bangkrut di kawasan tempat tinggal kami. Ia menjual segala macam kebutuhan rumah tangga di toserba itu; barang pecah belah, sembako, baju, sepatu, perlengkapan bayi, alat kosmetik, aksesori, susu-segala macam merek susu.

Selain mengurus toko, ayahku menjadi anggota kongsi kematian. Ayahku sering bertugas mengumpulkan dana kesedihan bagi siapa pun yang meninggal dunia tanpa memandang agama dan tingkat kehidupan sosial. Ketika ayahku melakukan tugasnya, aku melihatnya seperti orang suci yang berjalan dari rumah ke rumah dan meninggalkan doa-doa keberuntungan di tiap pintu yang ia kunjungi. Umurku sepuluh tahunan dan aku sering membuntutinya. Ayahku tidak pernah mengizinkan aku ikut bersamanya. Ia berkilah, “Kau bukan anggota kongsi kematian. Tugas yang cocok untuk anak-anak adalah belajar dan bermain.” Ayahku seolah mengabaikan fakta kalau aku sudah terlalu banyak belajar, sudah terlalu banyak bermain.

….

Selengkapnya sila baca di https://hot.detik.com/art/d-3971102/anggota-kongsi-kematian

Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Lus Senang Berlari

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 18 Februari 2018)

Lus sangat senang berlari. Teman-teman meneriakinya, “Lus!” “Lus!” dan ia bersiaga untuk lari jika ada seorang guru yang mencoba mendekatinya. Kaki Lus panjang sekali. Mirip kaki burung bangau. Dengan kaki panjang itu ia tampak menjulang di antara teman seumurannya. Dan Lus hanya ingin berlari. Teman-teman Lus berada di kelas dan belajar matematika bersama bapak guru yang memegang rol kayu. Lus tidak suka rol kayu itu. Rol kayu bikin ia gemetar—kedua kakinya yang paling gemetar, padahal kaki itu harus membawanya terus berlari. Maka Lus tidak pernah mau masuk lagi ke kelas. Ia tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Lus anak bodoh, kata teman-temannya. Mulut Lus yang lebar tertawa. Anak-anak itu geram kepada Lus yang tertawa. Mereka melemparinya dengan kerikil atau potongan kayu dan Lus pun dengan cepat berlari dan berlari.

Read More…

Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Saya Hanya Berdiri dan Melihat Semuanya

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 11 Februari 2018)

Sudah tiga jam saya memperhatikan perempuan itu. Telah tiga jam pula ia duduk di bangku kayu dengan mata menatap ke depan. Mata itu apakah terbuat dari batu? Saya benci mata yang terbuat dari batu—mata yang sulit sekali pecah. Saya pernah marah kepada pemilik mata seperti itu dan saya menembak kepalanya.

“Jangan menatap seperti itu!” kata saya mengertakkan gigi dengan keras. Ia tentu tidak mendengar suara saya. Kalaupun mendengar, ia sama sekali tidak akan peduli. Ia duduk di sana untuk sebuah pertunjukan seni. Saya membaca pengumumannya tiga hari lalu dan memutuskan datang ke sini. Di depan pintu, setiap pengunjung diharuskan mempelajari aturan main sebelum memasuki ruangan dan bertemu dengannya. Saya tidak terbiasa tunduk pada peraturan yang dibuat orang lain. Saya seorang pembunuh dan punya aturan sendiri. Namun, saya sedang berada dalam sebuah permainan yang sepertinya akan berakhir menarik dan rugi sekali bila saya lewatkan. Sebuah permainan yang tidak pernah saya bayangkan ada di dunia ini dan mungkin hanya akan sekali saja terjadi.

Read More…

Posted by: yettiaka | January 26, 2018

Bukalah Matamu

(Cerpen Yetti A.KA, Majalah Femina, No. 33/XLV-2017)

Sudah hampir satu jam bayi itu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama. Dokter muda yang menemaninya selama proses “penjemputan roh”—begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan—mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Read More…

Posted by: yettiaka | January 14, 2018

Menjadi Tua

(Cerpen Yetti A.KA, Tribun Jabar, 14 Januari 2018)

Miki tidak menduga akan tua bersama ayah dan ibunya. Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing dan membicarakan tentang rajutan yang belum selesai dan menyesalkan kenapa tetangga tidak segera memperbaiki genting rumahnya yang nyaris berjatuhan ke halaman rumah mereka. Ayahnya tidak terlalu suka bergosip—menurut ibunya, ayahnya itu hanya ingin tampak bertentangan dengan mereka—dan memilih mempermasalahkan kuku kaki yang cepat sekali panjang dan ia susah payah berdiri untuk mengambil gunting kuku di laci lemari di ruang tengah. “Lihatlah, ia berpikir hidup ini hanya soal memotong kuku,” sindir ibunya. Meski mereka berusaha keras untuk tidak saling menyakiti, tetap saja ada saat-saat yang membuat kebersamaan mereka diisi dengan perselisihan kecil. Ibunya lebih rewel di antara mereka. Ayahnya tampak tidak ingin mempermasalahkan apa pun, tapi sebenarnya semua adalah masalah baginya. Miki sendiri—dan sungguh ia terkejut menyadari ini—berubah menjadi perempuan kikir dan suka menyembunyikan makanan di petak lemari dalam kamar dan itu membuat ibunya berpikir bahwa mereka akan segera mati kelaparan saat menunggu makanan itu keluar dari persembunyiannya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 11, 2017

Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja

(Cerpen Yetti A.KA, Koran Tempo, 9-10 Desember 2017)

Ia dan Moora sudah berjanji untuk bertemu di Taman Remaja. Ia datang lebih cepat sepuluh menit. Taman ini tak berbeda dari yang dibacanya di dalam novel berjudul Moora, selain memang pohon-pohonnya bertambah tua, bangku semen makin rumpal dan berlumut, dan sampah kian menumpuk di mana-mana. Dan Moora paling senang duduk di salah satu bangku semen itu setelah ia berjalan kaki dari rumahnya yang berada tepat di bawah taman ini—dan karena itu ia mesti melewati pendakian yang cukup panjang dan membuat lehernya meneteskan keringat. Moora tidak pernah membawa sapu tangan. Moora tidak suka memasukkan sebungkus tisu mini dalam sakunya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 7, 2017

Semua Bermula Ketika Seekor Ikan Mati

(Cerpen Yetti A.KA, basabasi.co, 24 November 2017)

Seekor ikan louhan mati. Birla menemukannya terkapar di dasar akuarium berbentuk kubus setinggi 75 sentimeter. Mata ikan itu memelotot dan kaku dan menyisakan sedikit kekeraskepalaan. Mungkin sebisanya ia sudah berjuang melawan kematian. Matanya kini menatap Birla dengan hampa. Jangan memandangku begitu, bisik Birla terbata. Ia tidak menangis, tapi entah kenapa ia terbata. Kekosongan menjarakkannya dengan bangkai ikan louhan itu. Ia merasa louhan itu sudah menjadi benda asing dan mereka tidak pernah saling mengenal.  Birla ingin segera mencampakkan benda asing itu dari akuarium kesayangannya. Beberapa ekor ikan louhan lain berenang, bermain dengan letupan-letupan air buatan, seolah tak ada kematian di sekitar mereka. Jangan kebanyakan diberi makan, suaminya sering mengingatkan. Ikan-ikan itu hadiah dari suaminya. Hadiah ulang tahun yang ke-30. Birla pernah bertanya, apa keinginan terbesar segerombolan ikan louhan itu dalam kehidupan ini? Suaminya terkekeh dan berkata, kapan kau berhenti menanyakan segala sesuatu yang tidak penting untuk kita pikirkan?

….

Selanjutnya sila baca di link ini http://basabasi.co/semua-bermula-ketika-seekor-ikan-mati/

Older Posts »

Categories