Posted by: yettiaka | April 24, 2018

Anggota Kongsi Kematian

(Cerpen Yetti A.KA, detik.com, 14 April 2018)

Pada waktu itu, ayahku pemilik satu-satunya toserba yang nyaris bangkrut di kawasan tempat tinggal kami. Ia menjual segala macam kebutuhan rumah tangga di toserba itu; barang pecah belah, sembako, baju, sepatu, perlengkapan bayi, alat kosmetik, aksesori, susu-segala macam merek susu.

Selain mengurus toko, ayahku menjadi anggota kongsi kematian. Ayahku sering bertugas mengumpulkan dana kesedihan bagi siapa pun yang meninggal dunia tanpa memandang agama dan tingkat kehidupan sosial. Ketika ayahku melakukan tugasnya, aku melihatnya seperti orang suci yang berjalan dari rumah ke rumah dan meninggalkan doa-doa keberuntungan di tiap pintu yang ia kunjungi. Umurku sepuluh tahunan dan aku sering membuntutinya. Ayahku tidak pernah mengizinkan aku ikut bersamanya. Ia berkilah, “Kau bukan anggota kongsi kematian. Tugas yang cocok untuk anak-anak adalah belajar dan bermain.” Ayahku seolah mengabaikan fakta kalau aku sudah terlalu banyak belajar, sudah terlalu banyak bermain.

….

Selengkapnya sila baca di https://hot.detik.com/art/d-3971102/anggota-kongsi-kematian

Advertisements
Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Lus Senang Berlari

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 18 Februari 2018)

Lus sangat senang berlari. Teman-teman meneriakinya, “Lus!” “Lus!” dan ia bersiaga untuk lari jika ada seorang guru yang mencoba mendekatinya. Kaki Lus panjang sekali. Mirip kaki burung bangau. Dengan kaki panjang itu ia tampak menjulang di antara teman seumurannya. Dan Lus hanya ingin berlari. Teman-teman Lus berada di kelas dan belajar matematika bersama bapak guru yang memegang rol kayu. Lus tidak suka rol kayu itu. Rol kayu bikin ia gemetar—kedua kakinya yang paling gemetar, padahal kaki itu harus membawanya terus berlari. Maka Lus tidak pernah mau masuk lagi ke kelas. Ia tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Lus anak bodoh, kata teman-temannya. Mulut Lus yang lebar tertawa. Anak-anak itu geram kepada Lus yang tertawa. Mereka melemparinya dengan kerikil atau potongan kayu dan Lus pun dengan cepat berlari dan berlari.

Read More…

Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Saya Hanya Berdiri dan Melihat Semuanya

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 11 Februari 2018)

Sudah tiga jam saya memperhatikan perempuan itu. Telah tiga jam pula ia duduk di bangku kayu dengan mata menatap ke depan. Mata itu apakah terbuat dari batu? Saya benci mata yang terbuat dari batu—mata yang sulit sekali pecah. Saya pernah marah kepada pemilik mata seperti itu dan saya menembak kepalanya.

“Jangan menatap seperti itu!” kata saya mengertakkan gigi dengan keras. Ia tentu tidak mendengar suara saya. Kalaupun mendengar, ia sama sekali tidak akan peduli. Ia duduk di sana untuk sebuah pertunjukan seni. Saya membaca pengumumannya tiga hari lalu dan memutuskan datang ke sini. Di depan pintu, setiap pengunjung diharuskan mempelajari aturan main sebelum memasuki ruangan dan bertemu dengannya. Saya tidak terbiasa tunduk pada peraturan yang dibuat orang lain. Saya seorang pembunuh dan punya aturan sendiri. Namun, saya sedang berada dalam sebuah permainan yang sepertinya akan berakhir menarik dan rugi sekali bila saya lewatkan. Sebuah permainan yang tidak pernah saya bayangkan ada di dunia ini dan mungkin hanya akan sekali saja terjadi.

Read More…

Posted by: yettiaka | January 26, 2018

Bukalah Matamu

(Cerpen Yetti A.KA, Majalah Femina, No. 33/XLV-2017)

Sudah hampir satu jam bayi itu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama. Dokter muda yang menemaninya selama proses “penjemputan roh”—begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan—mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Read More…

Posted by: yettiaka | January 14, 2018

Menjadi Tua

(Cerpen Yetti A.KA, Tribun Jabar, 14 Januari 2018)

Miki tidak menduga akan tua bersama ayah dan ibunya. Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing dan membicarakan tentang rajutan yang belum selesai dan menyesalkan kenapa tetangga tidak segera memperbaiki genting rumahnya yang nyaris berjatuhan ke halaman rumah mereka. Ayahnya tidak terlalu suka bergosip—menurut ibunya, ayahnya itu hanya ingin tampak bertentangan dengan mereka—dan memilih mempermasalahkan kuku kaki yang cepat sekali panjang dan ia susah payah berdiri untuk mengambil gunting kuku di laci lemari di ruang tengah. “Lihatlah, ia berpikir hidup ini hanya soal memotong kuku,” sindir ibunya. Meski mereka berusaha keras untuk tidak saling menyakiti, tetap saja ada saat-saat yang membuat kebersamaan mereka diisi dengan perselisihan kecil. Ibunya lebih rewel di antara mereka. Ayahnya tampak tidak ingin mempermasalahkan apa pun, tapi sebenarnya semua adalah masalah baginya. Miki sendiri—dan sungguh ia terkejut menyadari ini—berubah menjadi perempuan kikir dan suka menyembunyikan makanan di petak lemari dalam kamar dan itu membuat ibunya berpikir bahwa mereka akan segera mati kelaparan saat menunggu makanan itu keluar dari persembunyiannya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 11, 2017

Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja

(Cerpen Yetti A.KA, Koran Tempo, 9-10 Desember 2017)

Ia dan Moora sudah berjanji untuk bertemu di Taman Remaja. Ia datang lebih cepat sepuluh menit. Taman ini tak berbeda dari yang dibacanya di dalam novel berjudul Moora, selain memang pohon-pohonnya bertambah tua, bangku semen makin rumpal dan berlumut, dan sampah kian menumpuk di mana-mana. Dan Moora paling senang duduk di salah satu bangku semen itu setelah ia berjalan kaki dari rumahnya yang berada tepat di bawah taman ini—dan karena itu ia mesti melewati pendakian yang cukup panjang dan membuat lehernya meneteskan keringat. Moora tidak pernah membawa sapu tangan. Moora tidak suka memasukkan sebungkus tisu mini dalam sakunya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 7, 2017

Semua Bermula Ketika Seekor Ikan Mati

(Cerpen Yetti A.KA, basabasi.co, 24 November 2017)

Seekor ikan louhan mati. Birla menemukannya terkapar di dasar akuarium berbentuk kubus setinggi 75 sentimeter. Mata ikan itu memelotot dan kaku dan menyisakan sedikit kekeraskepalaan. Mungkin sebisanya ia sudah berjuang melawan kematian. Matanya kini menatap Birla dengan hampa. Jangan memandangku begitu, bisik Birla terbata. Ia tidak menangis, tapi entah kenapa ia terbata. Kekosongan menjarakkannya dengan bangkai ikan louhan itu. Ia merasa louhan itu sudah menjadi benda asing dan mereka tidak pernah saling mengenal.  Birla ingin segera mencampakkan benda asing itu dari akuarium kesayangannya. Beberapa ekor ikan louhan lain berenang, bermain dengan letupan-letupan air buatan, seolah tak ada kematian di sekitar mereka. Jangan kebanyakan diberi makan, suaminya sering mengingatkan. Ikan-ikan itu hadiah dari suaminya. Hadiah ulang tahun yang ke-30. Birla pernah bertanya, apa keinginan terbesar segerombolan ikan louhan itu dalam kehidupan ini? Suaminya terkekeh dan berkata, kapan kau berhenti menanyakan segala sesuatu yang tidak penting untuk kita pikirkan?

….

Selanjutnya sila baca di link ini http://basabasi.co/semua-bermula-ketika-seekor-ikan-mati/

Posted by: yettiaka | November 12, 2017

Sasali Masih Menunggu

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 12 November 2017)

Sasali duduk di kelas dua. Siang itu, ia satu-satunya siswa yang tertinggal di sekolah. Semua teman-temannya sudah dijemput oleh orang tua mereka. Ia menunggu dijemput Papa—tidak biasanya Papa datang terlambat sesibuk apa pun pekerjaannya. Karena semua temannya sudah pulang, Sasali hanya bermain di dalam kelas saja.

Ibu Guru—wali kelas Sasali—memutuskan menemani Sasali ketika semua guru pamit pulang. Ibu Guru itu mengutak-atik kuku tangannya dan tampak bosan. Lalu ia membuka buku tulis, mencoret-coretinya. Sasali memperhatikan dari kursinya. Ia tidak tahu apa yang ditulis gurunya itu. Bisa jadi, Ibu Guru hanya membuat bulatan-bulatan tanpa bentuk yang jelas. Orang yang sedang bingung kadang melakukan itu tanpa sadar. Ibu Guru pasti sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. Di rumah, ia bisa membuka sepatu merahnya. Kaki dalam sepatu itu sudah pucat dan butuh udara.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 29, 2017

Apa Nama Baumu?

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 29 Oktober 2017)

Mesin pemotong meraung-raung di belakang rumah. Tetangga sedang memotong rimbunan rumput liar. Bau rumput yang dipotong menguar. Aku tidak bisa menjelaskan baunya itu. Bukan wangi seperti bau parfum. Bukan busuk seperti bau bangkai. Aku sering menemukan bau yang tak bernama. Bau hujan. Bau tanah kering. Bau kayu tua. Bau buku. Kau juga adalah sebuah bau. Kau mirip bau rumput yang dipotong itu. Bau yang membuatku mendadak sedih. Tidak. Bau rumput itu tidak mengirimkan sesuatu yang ngilu. Namun, aku tetap ingin menangis karena aku teringat kepada baumu.

Jadi apa nama baumu itu?

Read More…

Posted by: yettiaka | October 28, 2017

Pasangan Bahagia

(Cerpen Yetti A.KA, Suara NTB, 28 Oktober 2017)

Ia tidak mengerti bagaimana dapat hidup bersama orang yang selalu ingin melihatnya bahagia. Aku tak ingin bahagia, itu yang sering  ia katakan, tanpa pernah bosan, dan tanpa sekali pun ada yang mau paham. Setiap ia berkata begitu, orang-orang justru terpingkal dan mengatakan betapa lucu dan menghibur apa yang ia katakan, tapi tetap mengkritik selera humornya itu seperti mereka memberi tahu kesalahan-kesalahannya dalam memilih jenis aksesori dan terus-menerus berusaha meyakinkannya bahwa  di dunia yang sempurna ini tak satu pun orang (selain kamu, Tali!) yang berani bermain-main dengan kehidupan.

Read More…

Older Posts »

Categories