Posted by: yettiaka | January 26, 2018

Bukalah Matamu

(Cerpen Yetti A.KA, Majalah Femina, No. 33/XLV-2017)

Sudah hampir satu jam bayi itu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama. Dokter muda yang menemaninya selama proses “penjemputan roh”—begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan—mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Read More…

Advertisements
Posted by: yettiaka | January 14, 2018

Menjadi Tua

(Cerpen Yetti A.KA, Tribun Jabar, 14 Januari 2018)

Miki tidak menduga akan tua bersama ayah dan ibunya. Mereka bertiga duduk di kursi masing-masing dan membicarakan tentang rajutan yang belum selesai dan menyesalkan kenapa tetangga tidak segera memperbaiki genting rumahnya yang nyaris berjatuhan ke halaman rumah mereka. Ayahnya tidak terlalu suka bergosip—menurut ibunya, ayahnya itu hanya ingin tampak bertentangan dengan mereka—dan memilih mempermasalahkan kuku kaki yang cepat sekali panjang dan ia susah payah berdiri untuk mengambil gunting kuku di laci lemari di ruang tengah. “Lihatlah, ia berpikir hidup ini hanya soal memotong kuku,” sindir ibunya. Meski mereka berusaha keras untuk tidak saling menyakiti, tetap saja ada saat-saat yang membuat kebersamaan mereka diisi dengan perselisihan kecil. Ibunya lebih rewel di antara mereka. Ayahnya tampak tidak ingin mempermasalahkan apa pun, tapi sebenarnya semua adalah masalah baginya. Miki sendiri—dan sungguh ia terkejut menyadari ini—berubah menjadi perempuan kikir dan suka menyembunyikan makanan di petak lemari dalam kamar dan itu membuat ibunya berpikir bahwa mereka akan segera mati kelaparan saat menunggu makanan itu keluar dari persembunyiannya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 11, 2017

Ia dan Moora Berjumpa di Taman Remaja

(Cerpen Yetti A.KA, Koran Tempo, 9-10 Desember 2017)

Ia dan Moora sudah berjanji untuk bertemu di Taman Remaja. Ia datang lebih cepat sepuluh menit. Taman ini tak berbeda dari yang dibacanya di dalam novel berjudul Moora, selain memang pohon-pohonnya bertambah tua, bangku semen makin rumpal dan berlumut, dan sampah kian menumpuk di mana-mana. Dan Moora paling senang duduk di salah satu bangku semen itu setelah ia berjalan kaki dari rumahnya yang berada tepat di bawah taman ini—dan karena itu ia mesti melewati pendakian yang cukup panjang dan membuat lehernya meneteskan keringat. Moora tidak pernah membawa sapu tangan. Moora tidak suka memasukkan sebungkus tisu mini dalam sakunya.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 7, 2017

Semua Bermula Ketika Seekor Ikan Mati

(Cerpen Yetti A.KA, basabasi.co, 24 November 2017)

Seekor ikan louhan mati. Birla menemukannya terkapar di dasar akuarium berbentuk kubus setinggi 75 sentimeter. Mata ikan itu memelotot dan kaku dan menyisakan sedikit kekeraskepalaan. Mungkin sebisanya ia sudah berjuang melawan kematian. Matanya kini menatap Birla dengan hampa. Jangan memandangku begitu, bisik Birla terbata. Ia tidak menangis, tapi entah kenapa ia terbata. Kekosongan menjarakkannya dengan bangkai ikan louhan itu. Ia merasa louhan itu sudah menjadi benda asing dan mereka tidak pernah saling mengenal.  Birla ingin segera mencampakkan benda asing itu dari akuarium kesayangannya. Beberapa ekor ikan louhan lain berenang, bermain dengan letupan-letupan air buatan, seolah tak ada kematian di sekitar mereka. Jangan kebanyakan diberi makan, suaminya sering mengingatkan. Ikan-ikan itu hadiah dari suaminya. Hadiah ulang tahun yang ke-30. Birla pernah bertanya, apa keinginan terbesar segerombolan ikan louhan itu dalam kehidupan ini? Suaminya terkekeh dan berkata, kapan kau berhenti menanyakan segala sesuatu yang tidak penting untuk kita pikirkan?

….

Selanjutnya sila baca di link ini http://basabasi.co/semua-bermula-ketika-seekor-ikan-mati/

Posted by: yettiaka | November 12, 2017

Sasali Masih Menunggu

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 12 November 2017)

Sasali duduk di kelas dua. Siang itu, ia satu-satunya siswa yang tertinggal di sekolah. Semua teman-temannya sudah dijemput oleh orang tua mereka. Ia menunggu dijemput Papa—tidak biasanya Papa datang terlambat sesibuk apa pun pekerjaannya. Karena semua temannya sudah pulang, Sasali hanya bermain di dalam kelas saja.

Ibu Guru—wali kelas Sasali—memutuskan menemani Sasali ketika semua guru pamit pulang. Ibu Guru itu mengutak-atik kuku tangannya dan tampak bosan. Lalu ia membuka buku tulis, mencoret-coretinya. Sasali memperhatikan dari kursinya. Ia tidak tahu apa yang ditulis gurunya itu. Bisa jadi, Ibu Guru hanya membuat bulatan-bulatan tanpa bentuk yang jelas. Orang yang sedang bingung kadang melakukan itu tanpa sadar. Ibu Guru pasti sudah tidak sabar ingin pulang ke rumah. Di rumah, ia bisa membuka sepatu merahnya. Kaki dalam sepatu itu sudah pucat dan butuh udara.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 29, 2017

Apa Nama Baumu?

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 29 Oktober 2017)

Mesin pemotong meraung-raung di belakang rumah. Tetangga sedang memotong rimbunan rumput liar. Bau rumput yang dipotong menguar. Aku tidak bisa menjelaskan baunya itu. Bukan wangi seperti bau parfum. Bukan busuk seperti bau bangkai. Aku sering menemukan bau yang tak bernama. Bau hujan. Bau tanah kering. Bau kayu tua. Bau buku. Kau juga adalah sebuah bau. Kau mirip bau rumput yang dipotong itu. Bau yang membuatku mendadak sedih. Tidak. Bau rumput itu tidak mengirimkan sesuatu yang ngilu. Namun, aku tetap ingin menangis karena aku teringat kepada baumu.

Jadi apa nama baumu itu?

Read More…

Posted by: yettiaka | October 28, 2017

Pasangan Bahagia

(Cerpen Yetti A.KA, Suara NTB, 28 Oktober 2017)

Ia tidak mengerti bagaimana dapat hidup bersama orang yang selalu ingin melihatnya bahagia. Aku tak ingin bahagia, itu yang sering  ia katakan, tanpa pernah bosan, dan tanpa sekali pun ada yang mau paham. Setiap ia berkata begitu, orang-orang justru terpingkal dan mengatakan betapa lucu dan menghibur apa yang ia katakan, tapi tetap mengkritik selera humornya itu seperti mereka memberi tahu kesalahan-kesalahannya dalam memilih jenis aksesori dan terus-menerus berusaha meyakinkannya bahwa  di dunia yang sempurna ini tak satu pun orang (selain kamu, Tali!) yang berani bermain-main dengan kehidupan.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 9, 2017

Gerbong Kereta

(Cerpen Yetti A.KA, Detik.Com, 26 Agustus 2017)

Dari jendela hotel aku melihat gerbong kereta api melintas. Beberapa bangkai nyamuk—kaki-kakinya yang agak berserakan, ditambah debu dan bekas lelehan hujan—melekat di kaca jendela. Gedung-gedung tinggi di kota ini serupa tiang-tiang bangunan yang kukuh. Persis di bawah—di depan jendela kamar hotel ini—mobil mulai memadati jalan.

Di belakangku, seorang kekasih—sebetulnya ia tidak benar-benar sebagai kekasihku lagi sebab dua bulan lalu hubungan kami telah berakhir dan ia sudah menemukan pacar baru—belum terbangun dari tidurnya hingga pukul enam.

Read More…

Posted by: yettiaka | August 6, 2017

Rumah di Langit

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 6 Agustus 2017)

Ia mendongakkan kepalanya dan berpikir, kenapa rumah orang miskin itu harus berada di ketinggian bukit, ia terus memikirkan batang-batang pakis sepanjang jalan setapak menuju rumah itu, tumbuhan liar ada di mana-mana—ia tidak tahu apa saja namanya, pohon kelapa, dan oh, betapa banyak batang pakis, dan kembali ia tertanya-tanya, kenapa rumah orang miskin itu berada di tempat yang amat tinggi dengan jalan demikian mendaki, atap sengnya begitu cokelat dan tua, dinding-dinding kayunya rapuh, sebagian berlubang—dimakan usia dan cuaca, adakah Tuhan sesekali datang ke sana dengan cara-cara yang hanya mereka mampu merasakannya—kehadiran yang menguatkan dari segala penderitaan dan luka dan demi itukah keluarga itu membangun rumah di tempat paling tinggi di antara beberapa rumah lainnya, rumah yang lalu ia ketuk pintunya dan seseorang menjulurkan kepala dan bertanya ragu, “Apakah kau tersesat?”

Read More…

Posted by: yettiaka | July 30, 2017

Semua Ini tentang Borci

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 30 Juli 2017)

Ia berumur 19 tahun, Borci 63. Mereka bertemu di kereta dalam perjalanan liburan. Ia bersama seorang teman remajanya. Borci bersama buku-bukunya. Ia tidak terlalu ingat apa yang memaksanya berbicara dengan Borci—dan kemudian lelaki itu meninggalkan nomor telepon.  Kemungkinan besar waktu itu temannya masuk angin dan muntah dan memerlukan tisu dengan segera, lalu ia memintanya kepada Borci. Dalam keadaan demikian, bisa saja, ia tidak berpikir betapa dinginnya lelaki dengan buku-bukunya itu sebab masalah temannya harus segera  teratasi agar bau muntah tidak menyebar ke mana-mana dan bisa mengganggu penumpang di deretan bangku lain. Dengan menunjukkan tatapan kebencian, Borci memberikan segumpal tisu—ditambah sejumlah gerutuan sebab lelaki itu sudah pasti merasa terganggu. Namun, setelah insiden itu berakhir dan temannya sudah tertidur, Borci mulai mengajaknya bicara. Lelaki itu menanyakan tujuannya. Ia menyebut sebuah kota. Borci kebetulan juga akan berhenti di kota yang sama. Sebuah alasan yang membuat mereka mengobrol lebih panjang sampai akhirnya kertas dengan catatan nomor telepon itu ada dalam genggamannya.

Read More…

Older Posts »

Categories