Posted by: yettiaka | August 6, 2017

Rumah di Langit

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 6 Agustus 2017)

Ia mendongakkan kepalanya dan berpikir, kenapa rumah orang miskin itu harus berada di ketinggian bukit, ia terus memikirkan batang-batang pakis sepanjang jalan setapak menuju rumah itu, tumbuhan liar ada di mana-mana—ia tidak tahu apa saja namanya, pohon kelapa, dan oh, betapa banyak batang pakis, dan kembali ia tertanya-tanya, kenapa rumah orang miskin itu berada di tempat yang amat tinggi dengan jalan demikian mendaki, atap sengnya begitu cokelat dan tua, dinding-dinding kayunya rapuh, sebagian berlubang—dimakan usia dan cuaca, adakah Tuhan sesekali datang ke sana dengan cara-cara yang hanya mereka mampu merasakannya—kehadiran yang menguatkan dari segala penderitaan dan luka dan demi itukah keluarga itu membangun rumah di tempat paling tinggi di antara beberapa rumah lainnya, rumah yang lalu ia ketuk pintunya dan seseorang menjulurkan kepala dan bertanya ragu, “Apakah kau tersesat?”

Read More…

Advertisements
Posted by: yettiaka | July 30, 2017

Semua Ini tentang Borci

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 30 Juli 2017)

Ia berumur 19 tahun, Borci 63. Mereka bertemu di kereta dalam perjalanan liburan. Ia bersama seorang teman remajanya. Borci bersama buku-bukunya. Ia tidak terlalu ingat apa yang memaksanya berbicara dengan Borci—dan kemudian lelaki itu meninggalkan nomor telepon.  Kemungkinan besar waktu itu temannya masuk angin dan muntah dan memerlukan tisu dengan segera, lalu ia memintanya kepada Borci. Dalam keadaan demikian, bisa saja, ia tidak berpikir betapa dinginnya lelaki dengan buku-bukunya itu sebab masalah temannya harus segera  teratasi agar bau muntah tidak menyebar ke mana-mana dan bisa mengganggu penumpang di deretan bangku lain. Dengan menunjukkan tatapan kebencian, Borci memberikan segumpal tisu—ditambah sejumlah gerutuan sebab lelaki itu sudah pasti merasa terganggu. Namun, setelah insiden itu berakhir dan temannya sudah tertidur, Borci mulai mengajaknya bicara. Lelaki itu menanyakan tujuannya. Ia menyebut sebuah kota. Borci kebetulan juga akan berhenti di kota yang sama. Sebuah alasan yang membuat mereka mengobrol lebih panjang sampai akhirnya kertas dengan catatan nomor telepon itu ada dalam genggamannya.

Read More…

Posted by: yettiaka | May 8, 2017

Teman Duduk

(Cerpen Yetti A.KA, Tribun Jabar, 7 Mei 2017)

Mereka hanya bertemu di sebuah bar. Setahun  lalu, mereka pertama kali berkenalan di tempat yang sama dan perempuan itu mengaku, “Aku ingin bercerai secepatnya.” Kemudian setiap mereka bertemu, perempuan itu akan mengulang kalimat serupa dan ia menjadi terbiasa mendengarnya.

Ia menawarkan vape kepada teman duduknya itu. “Tidak,” tolak perempuan yang setiap mereka bertemu selalu melilitkan syal bernuansa etnik di lehernya, baik dalam cuaca dingin maupun panas. Perempuan itu mengaku, ia mulai menyukai syal karena suaminya sering tugas kantor ke berbagai daerah  dan kerap membawa pulang oleh-oleh kain tenun. Ia tak pernah suka mengenakan kain sebagai padanan blus atau kebaya. “Aku merasa itu bukan aku,” katanya. Ia menjahit kain-kain tenun itu menjadi syal indah dan membagikannya ke beberapa teman selain tentu untuk dirinya sendiri. “Lama-lama aku tak bisa keluar rumah tanpa menutupi leherku.” Perempuan itu tertawa pendek.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 23, 2017

Perempuan yang Memegang Tali Anjing

(Cerpen Yetti A.KA, Kompas, 23 April 2017)

Perempuan itu selalu datang bersama seekor anjing pudel ke toko buku yang hanya buka pada hari Minggu. Ia menambatkan tali anjing di sebuah tiang besi di halaman toko, berbicara sebentar kepada pudel berbulu krem kesayangannya—lebih banyak tentang larangan-larangan yang harus dipatuhi si pudel—sebelum ia masuk dan mencari buku yang akan dibacanya selama dua jam. Toko buku itu memang menyediakan buku-buku yang boleh dibaca oleh pengunjung. Pemiliknya sudah tentu orang yang murah hati atau—jika itu tidak berkaitan dengan kemurahan hati—mungkin saja ia sengaja membuka toko itu agar ada orang-orang yang mengunjunginya di akhir pekan dan membuatnya tidak kesepian. Pemilik toko buku, lelaki berusia 60an tahun dan telah lama hidup sendirian. Perempuan yang selalu datang bersama anjing pudel—ia pelanggan tetap toko itu—tidak pernah berbicara dengan lelaki pemilik toko, sebab ia ke sana memang hanya untuk membaca buku dan itu membuatnya belum sekali pun pergi ke meja kasir tempat si pemilik toko menghabiskan waktunya sambil mencermati berita di beberapa surat kabar.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 13, 2017

Mereka yang Berkumpul di Kebun Portulaca

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 9 April 2017)

Aku tidak bisa tidur, Miy.

Pesan pendek itu mengejutkanku pada tengah malam. Aku tidak langsung membalasnya. Enam bulan Paras menghilang. Nyaris dua bulan lalu aku memilih berhenti memikirkannya. Mungkin Paras memang harus pergi dari hidupku dan aku menerima keputusannya itu. Namun,  baru saja aku membaca pesan pendeknya. Aku tak menyiapkan diri untuk menerima kehadirannya kembali.

Read More…

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 02 April 2017)

Aku menunggu orang yang tidak akan pernah datang. Bukan karena ia seorang pengkhianat, melainkan kami memang tak pernah berjanji. Aku bahkan tidak tahu siapa orang itu. Ia mungkin seseorang yang ada di tempat sangat jauh, di belahan utara, selatan, atau barat bumi ini. Ia bisa juga lelaki atau perempuan. Namun, bisa pula ia sama sekali tidak ada. Ya, tidak ada. Dan aku hanya sekadar mau menunggu.

Read More…

Posted by: yettiaka | February 25, 2017

SEPUPU

(Cerpen Yetti A.KA, Koran Tempo, 25 Februari 2017)

Pada usiaku yang ke-14 tahun, sepupu yang paling kusayangi memutuskan pindah agama dan menjadi seorang pembaca kitab yang taat. Sebelumnya, di mataku, dia seorang pelari yang hebat dan aku selalu senang melihatnya mengenakan kaos kaki panjang garis-garis hitam putih dalam berbagai perlombaan yang diikutinya dan menunggu satu hari dia melempar kaos kaki itu ke dalam keranjang khusus  barang-barang tak berguna lagi dan aku segera memungutnya untuk kusimpan diam-diam dalam lemariku. Read More…

Posted by: yettiaka | December 31, 2016

Sebuah Nomor yang Harus Kutelepon Hari Ini

(Cerpen Yetti A.KA, Majalah Femina Edisi 51, 24-30 Desember 2016)

Biasanya, jarang sekali aku merasa sepi saat berada di ruang kerja. Di luar, suara cukup ramai. Suara papan tuts komputer. Suara orang saling sapa. Tawa yang pecah. Langkah kaki tergesa. Barang jatuh.  Bunyi telepon yang tidak henti-henti berdering. Bunyi ponsel—begitu banyak bunyi ponsel dengan nada panggil beragam. Suara petugas pantry yang mengantar minuman panas ke meja-meja kerja. Suara-suara yang biasa kudengar. Suara-suara yang sangat kukenali. Namun, tak satu pun dari suara-suara itu yang membuatku merasa bahwa aku tidak sendirian di sini.

Read More…

Posted by: yettiaka | December 25, 2016

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 25 Desember 2016)

“Kau masih mendengarku?”

“Ya, aku mendengarmu.”

“Tapi kau pasti sudah mengantuk.”

“Jika aku tertidur sekali pun, jangan berhenti bercerita.”

***

Read More…

Posted by: yettiaka | December 24, 2016

Kematian Bolok

(Cerpen Yetti A.KA, Suara NTB, 24 Desember 2016)

Aku melihat langit berubah merah. Anjing di ruang belakang menggonggong terus-menerus. Aku menempelkan tubuhku ke kaki Mama yang sedang mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Aku menunggu apa yang akan terjadi. Mama menjerit tertahan. Ia membawaku masuk ke dalam rumah.

Aku bertanya beruntun:

Siapa yang menumpahkan cat merah di langit itu?

Kenapa banyak sekali tumpahnya?

Apa pelakunya anak kecil yang nakal?

Read More…

Older Posts »

Categories