Posted by: yettiaka | October 26, 2018

Seekor Laba-Laba Kecil

(Cernak Yetti A.KA, Solo Pos, 23 September 2018)

Kilat menyambar-nyambar di langit. Pintu dan jendela-jendela sudah sejak sore ditutup. Musim hujan. Semua orang ingin cepat-cepat berada di dalam rumah. Beruntung sekali anak-anak yang sudah mengerjakan PR sepulang sekolah. Salah seorang dari anak itu, Gomi. Anak-anak seperti mereka tidak perlu lagi duduk dengan buku-buku yang berserakan dan sesekali mulut menguap. Bagaimanapun sekolah seharian sudah membuat sangat letih. Ditambah PR dan PR setiap hari. Mengerjakan PR sama sekali tidak boleh ditunda, jika ingin merasakan tidur lebih cepat di malam hari, terutama ketika cuaca dingin.

Read More…

Advertisements
Posted by: yettiaka | October 26, 2018

Ketua Klub Gosip

(Cerpen Yetti A.KA, Jurnal Ruang, 28 Agustus 2018 dan Tribun Jabar, 02 September 2018)

Dalam keluarga kami, nenekku orang yang paling senang memunguti cerita di luar dan membawanya pulang ke rumah. Ia senang berkumpul bersama perempuan-perempuan tua dan bergosip tentang kejadian yang berkembang di sekitar tempat tinggal kami.  Setiap pulang, nenekku berhenti di pintu dan berkata: kalian tahu, perawan tua Sima baru saja pulang membawa bayi tanpa seorang suami. Kalian tahu, bandot Jogi ketahuan mengintip gadis-gadis di pemandian umum. Kalian tahu, arwah pelacur Lili tidak tenang di dalam kubur karena ia belum melunasi utang pakaian dalamnya di Senza Lingerie Shop. Kalian tahu, keluarga Pam Lala—nama panggilan anak tertua dalam keluarga yang gemar menyanyi itu—baru saja bertengkar dengan petugas air ledeng karena tidak membayar tagihan berbulan-bulan lamanya.

Read More…

Posted by: yettiaka | October 26, 2018

Penjaga Buku dan Tokoh Fiksi yang Tidak Bahagia

(cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 12 Agustus 2018)

Sampah plastik jatuh di kepala Far yang tengah memandangi buku-buku. Perempuan 23 tahun itu seketika menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berpikir mungkin Tuhan sedang membagi-bagikan sesuatu—ia berharap sekantong roti paling enak—tapi yang ia lihat hanya tumpukan awan gelap.

Pagi tadi, Far sudah mengingatkan Ruin tentang cuaca buruk. Sudah seminggu ini langit selalu  kelam, kadang disusul hujan, kadang hanya gerimis. Far bilang, terlalu berisiko kalau kita nekat. Ruin minta Far tetap datang ke rumahnya untuk menjemput buku-buku dan membuka lapak baca gratis di area gedung olahraga seperti yang biasa mereka lakukan di bulan-bulan lalu. Kalau hujan, tinggal angkat buku-bukunya dan cari tempat berlindung, kata Ruin. Far bisa memaklumi kekeraskepalaan Ruin. Sudah empat kali hari Minggu mereka tidak membuka lapak baca. Jangan kecewakan pembaca kita, kata Ruin mengacu pada orang-orang yang biasa singgah, memilih buku, dan duduk sembari membaca di sekitar taman tempat sekelompok lelaki bermain catur raksasa (dan karena itu mereka menyebutnya Taman Catur).

Read More…

Posted by: yettiaka | July 2, 2018

Ia Tidak Ingin Mengatakannya

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 10 Juni 2018)

Nicelli memandangi jari manis tangan kanannya. Jari cokelat muda dan ramping. Sebentuk cincin melingkar di sana. Hon memasangkannya lima tahun lalu. Nicelli tak pernah melepasnya, meski empat tahun kemudian mereka resmi berpisah. Itu sama sekali tidak masalah—tentang perselingkuhan Hon yang membuat pernikahan mereka berantakan itu. Nicelli tidak membenci Hon. Ia lebih sering membenci dirinya ketimbang Hon.

“Hon,” desisnya gelisah. Nicelli berputar-putar di ruangan. Ia meremas-remas jemarinya sambil terus berkata, ya, Tuhan dan satu dua kali menyebut nama Hon. Ia makin gelisah. Seperti biasa, ia lagi-lagi sangat menginginkan pisau dan melakukan sesuatu pada dirinya. Namun, sebelum ia bergerak ke dapur dan menemukan pisau dalam lemari penyimpanan, ia lekas meninju kepalanya dengan keras—seperti yang Hon sering lakukan dalam menghadapinya. Ia meninju lagi dengan lebih keras. Meninju lagi. Sampai ia terhuyung-huyung, lantas kepalanya membentur dinding dan  pikirannya terpecah; antara pisau dan gambar-gambar bunga matahari.

Read More…

Posted by: yettiaka | May 15, 2018

Kepala Kucing

(Cerpen Yetti A.KA dan Edi AH Eyubenu, nyonthong com, 27 April 2018)

Kau mengaku memiliki gudang di dadamu tempat menyimpan segala macam benda dan binatang.

Binatang? tanyaku setengah iseng. Kau tersenyum dan… seketika matamu berubah menjadi dua buah garis lurus yang tampak lucu. Kuanggap demikian karena aku pernah punya teman seperti itu. Kami bertemu pada usia lima belas dan terpisah di usia tujuh belas. Selama dua tahun kebersamaan kami itu, hal yang paling kuingat darinya adalah sepasang matanya yang berubah menjadi garis lurus bila ia tersenyum lebar. Aku mengatakan kepada temanku itu kalau ia mirip tokoh kartun penghibur saat tersenyum begitu. Ia suka pendapatku. Itu ia tunjukkan dengan usahanya untuk banyak tersenyum lebar saat bersamaku. Namun, satu hari, setelah setahun temanku itu pamit pergi ke kota lain mengikuti orang tuanya yang senang berpindah-pindah, foto pecahan tubuhnya yang berceceran di jalan, lengkap dengan keterangan jati diri di kartu tanda pengenalnya, tersebar di media sosial. Sampai di sini, aku merasa apa-apa yang tadi kukenang sebagai sesuatu yang lucu tentangnya berubah menjadi gelap. Susah payah aku mengatur napasku yang seketika menjadi berat.

….

Sila baca selengkapnya di link ini: http://nyonthong.com/cerpen-kepala-kucing/

 

Posted by: yettiaka | May 15, 2018

Insang Merah Muda

(Cerpen Yetti A.KA, Litera, 24 April 2018)

Dalam kurungan tikar pandan, Kimori mendengar suara arus sungai dan tawa teman-temannya. “Buka yang lebar,” bisik perempuan tua—tukang sunat yang telah memegang jarum kecil di tangan kanan.

Kimori tersentak, tawa teman-temannya menghilang. Ia ingat mimpi-mimpinya belakangan ini. Ia yang berubah menjadi seekor ikan di hari sunatannya. “Buka yang lebar,” sekali lagi perempuan tua berbisik. Ragu-ragu Kimori membuka selangkangannya yang ditutup kain mandi dari belacu. Suara teman-temannya kembali riuh—sepertinya ada seorang anak yang menyimburkan air ke tepian sungai dan membasahi orang-orang yang sedang duduk bergerombol. Ia merasa lega mendengar keriuhan itu. Rasa takutnya berkurang. Dalam mimpi itu, selain dirinya, ia melihat begitu banyak ikan berwajah anak perempuan yang pernah dibawa ke sungai untuk disunat dan dimandikan dengan jampi  di ubun-ubun. Sebentar lagi ia mungkin akan benar-benar menjadi ikan. Ia tidak tahu bagaimana rasanya menjadi seekor ikan dan berada di dalam sungai.

Read More…

Posted by: yettiaka | April 24, 2018

Anggota Kongsi Kematian

(Cerpen Yetti A.KA, detik.com, 14 April 2018)

Pada waktu itu, ayahku pemilik satu-satunya toserba yang nyaris bangkrut di kawasan tempat tinggal kami. Ia menjual segala macam kebutuhan rumah tangga di toserba itu; barang pecah belah, sembako, baju, sepatu, perlengkapan bayi, alat kosmetik, aksesori, susu-segala macam merek susu.

Selain mengurus toko, ayahku menjadi anggota kongsi kematian. Ayahku sering bertugas mengumpulkan dana kesedihan bagi siapa pun yang meninggal dunia tanpa memandang agama dan tingkat kehidupan sosial. Ketika ayahku melakukan tugasnya, aku melihatnya seperti orang suci yang berjalan dari rumah ke rumah dan meninggalkan doa-doa keberuntungan di tiap pintu yang ia kunjungi. Umurku sepuluh tahunan dan aku sering membuntutinya. Ayahku tidak pernah mengizinkan aku ikut bersamanya. Ia berkilah, “Kau bukan anggota kongsi kematian. Tugas yang cocok untuk anak-anak adalah belajar dan bermain.” Ayahku seolah mengabaikan fakta kalau aku sudah terlalu banyak belajar, sudah terlalu banyak bermain.

….

Selengkapnya sila baca di https://hot.detik.com/art/d-3971102/anggota-kongsi-kematian

Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Lus Senang Berlari

(Cerpen Yetti A.KA, Padang Ekspres, 18 Februari 2018)

Lus sangat senang berlari. Teman-teman meneriakinya, “Lus!” “Lus!” dan ia bersiaga untuk lari jika ada seorang guru yang mencoba mendekatinya. Kaki Lus panjang sekali. Mirip kaki burung bangau. Dengan kaki panjang itu ia tampak menjulang di antara teman seumurannya. Dan Lus hanya ingin berlari. Teman-teman Lus berada di kelas dan belajar matematika bersama bapak guru yang memegang rol kayu. Lus tidak suka rol kayu itu. Rol kayu bikin ia gemetar—kedua kakinya yang paling gemetar, padahal kaki itu harus membawanya terus berlari. Maka Lus tidak pernah mau masuk lagi ke kelas. Ia tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Lus anak bodoh, kata teman-temannya. Mulut Lus yang lebar tertawa. Anak-anak itu geram kepada Lus yang tertawa. Mereka melemparinya dengan kerikil atau potongan kayu dan Lus pun dengan cepat berlari dan berlari.

Read More…

Posted by: yettiaka | March 3, 2018

Saya Hanya Berdiri dan Melihat Semuanya

(Cerpen Yetti A.KA, Jawa Pos, 11 Februari 2018)

Sudah tiga jam saya memperhatikan perempuan itu. Telah tiga jam pula ia duduk di bangku kayu dengan mata menatap ke depan. Mata itu apakah terbuat dari batu? Saya benci mata yang terbuat dari batu—mata yang sulit sekali pecah. Saya pernah marah kepada pemilik mata seperti itu dan saya menembak kepalanya.

“Jangan menatap seperti itu!” kata saya mengertakkan gigi dengan keras. Ia tentu tidak mendengar suara saya. Kalaupun mendengar, ia sama sekali tidak akan peduli. Ia duduk di sana untuk sebuah pertunjukan seni. Saya membaca pengumumannya tiga hari lalu dan memutuskan datang ke sini. Di depan pintu, setiap pengunjung diharuskan mempelajari aturan main sebelum memasuki ruangan dan bertemu dengannya. Saya tidak terbiasa tunduk pada peraturan yang dibuat orang lain. Saya seorang pembunuh dan punya aturan sendiri. Namun, saya sedang berada dalam sebuah permainan yang sepertinya akan berakhir menarik dan rugi sekali bila saya lewatkan. Sebuah permainan yang tidak pernah saya bayangkan ada di dunia ini dan mungkin hanya akan sekali saja terjadi.

Read More…

Posted by: yettiaka | January 26, 2018

Bukalah Matamu

(Cerpen Yetti A.KA, Majalah Femina, No. 33/XLV-2017)

Sudah hampir satu jam bayi itu diletakkan di dadanya. Bukalah matamu, ia berbisik letih. Suaranya, yang mula-mula bertenaga, kini hampir tak terdengar lagi setelah nyaris seratus kali ia berkata dengan kalimat yang sama. Dokter muda yang menemaninya selama proses “penjemputan roh”—begitu ia berpikir tentang apa yang sedang mereka lakukan—mengulurkan tangannya untuk mengambil bayi itu dan menyudahi semuanya.

Read More…

Older Posts »

Categories